Stasiun Semut, Stasiun Surabaya Kota, dan KA Penataran

Hola!

Tanggal 27 Juli 2017 kemarin gue berkesempatan buat jajal KA Penataran rute Surabaya Kota – Sidoarjo. Aslinya sih kereta ini relasi Surabaya Kota – Malang – Blitar PP. Kereta ini termasuk kereta lokal ekonomi dengan total 21 – 23 pemberhentian sepanjang perjalanan kereta ini.

1 Lobby Stasiun Surabaya Kota yang tampak seperti bangunan kumuh. Sumber: Pribadi

Gue tiba di stasiun Surabaya Kota pukul 11:10 WIB. Kebetulan gue berniat mengambil jadwal perjalanan KA Penataran yang pukul 11:25 WIB. Sedikit sejarah mengenai stasiun ini. Β Stasiun Surabaya kota dibangun pada tahun 1870an sehingga menjadikan stasiun ini stasiun tertua di Surabaya dan salah satu yang tertua di Indonesia. Dahulu stasiun ini bernama Stasiun Semut yang lokasinya beberapa meter dari stasiun yang sekarang. Entah pada tahun berapa, di sekitar stasiun ini dibangun pertokoan dan ruko Semut Indah / Indo Plaza yang kini bangunannya menyatu dengan Stasiun Surabaya Kota existing sehingga menjadikan stasiun ini stasiun dengan model bay-platform seperti Stasiun Jakarta Kota dan stasiun Tanjung Priok.

33nua06Stasiun Semut di tahun 1900. Sumber: Semboyan35

Bangunan Stasiun Semut lama mendapatkan status cagar budaya pada tahun 1966 dan sempat direvitalisasi sekitar tahun 2012-an karena sempat ada rencana untuk digunakan kembali sebagai stasiun kereta penumpang. Namun hingga saat ini rencana tersebut belum terlaksana. Gue menduga ketidaktersediaan lahan parkir yang mumpuni di sekitar Stasiun Semut lama menjadikan rencana ini urung terlaksana. Selain itu kondisi lalu lintas yang cukup padat juga dapat menjadi alasan lainnya, karena tepat di seberang Stasiun Semut lama ini berdiri pusat pertokoan teramai di Surabaya yaitu Pasar Atom.

dsc01466Proses revitalisasi Stasiun Semut. Sumber: pesonacagarbudayasurabaya.wordpress.com

Kembali ke bangunan baru, Stasiun Surabaya Kota existing sempat mendapatkan masalah klasik di Indonesia, yakni sengketa lahan PT. KAI dimana PT. KAI menganggap bangunan ruko dan pertokoan Semut Indah / Indo Plaza merupakan aset PT. KAI. Gue nggak mau bercerita lebih panjang mengenai kasus ini karena hingga sekarang statusnya masih jelas dan Stasiun Surabaya Kota masih berfungsi hingga saat ini.

Masuk ke dalam stasiun ini, kesat kumuh, kotor, dan gelap gue temukan. Tidak seperti stasiun lainnya, gue nggak menemukan adanya mesin pembelian tiket otomatis atau mesin cetak mandiri. Mungkin karena stasiun ini hanya melayani kereta lokal dan komuter saja. Namun sangat disayangkan sekali stasiun bersejarah ini tidak dijaga dan dirawat dengan baik oleh PT. KAI.

2Bagian dalam stasiun tampak gelap dan remang-remang. Sumber: Pribadi

Setelah membeli tiket jurusan Sidoarjo seharga Rp. 10,000, gue menuju ke ruang tunggu yang dilengkapi dengan live music. Sayang live music ini terkesan seperti “pengamen” dimana mereka berkeliling untuk meminta sumbangan. Sedikit tidak nyaman apalagi disaat kamu tidak memberi maka mereka akan menunggui kamu. Sudah selayaknya PT. KAI lah yang memberikan mereka apreasiasi sehingga kenyamanan penumpang tidak berkurang.

3Konsep bay-platform seperti Jakarta Kota dan Tanjung Priok. Sumber: Pribadi

4Live music di ruang tunggu. Sumber: Pribadi

Kereta Penataran datang sedikit terlambat, yaitu pukul 11:28 WIB. Kereta berhenti di jalur 2 dan hampir seluruh orang yang ada di ruang tunggu tersebut masuk ke dalam kereta. Gue kebagian kereta 1 yakni kereta yang berada tepat di belakang lokomotif. Kalau gue nggak salah mengingat, kereta ini hanya memiliki 4 atau 5 gerbong penumpang dan 1 gerbong makanan / pembangkit di paling belakang.

7
Rangkaian kereta Gaya Baru Malam Selatan yang sedang beristirahat. Sumber: Pribadi

8Gerbong Ekonomi 1 dengan kursi 2-3. Sumber: Pribadi

9Perjalanan sepanjang Surabaya Kota – Gubeng. Sumber: Pribadi

Rangkaian kereta ini menggunakan kereta lama dengan kode K 0 97 02 dengan depo Sidotopo. Kereta ini dilengkapi dengan AC Split seperti AC rumahan dengan konfiguasi bangku 2-3 yang cukup nyaman untuk berpergian dengan jarak yang tidak jauh. Saat itu ternyata tidak banyak penumpang yang naik dari Stasiun Surabaya Kota. Namun setelah masuk ke Stasiun Gubeng barulah kereta terasa penuh. Setelah melewati Stasiun Gubeng, tiket pun diperiksa satu per satu.

10Memasuki Stasiun Surabaya Gubeng. Sumber: Pribadi

14Pemeriksaan tiket. Sumber: Pribadi

Sepanjang perjalanan gue habiskan waktu untuk mengedit foto untuk Instagram gue. Nggak kerasa pukul 12:14 WIB gue pun tiba di Stasiun Sidoarjo. Secara keseluruhan, transportasi ini bisa kamu coba, terutama bagi kamu yang ingin commuter dari kota Surabaya ke Sidoarjo atau sebaliknya. Mengingat saat ini belum ada transportasi bis kota antara kota Sidoarjo ke pusat kota Surabaya di utara. Bus Trans Sidoarjo yang saat ini ada baru melayani rute Porong – Sidoarjo – Terminal Purabaya PP.

 

Tiba di stasiun Sidoarjo. Sumber: Pribadi

Selain itu buat kamu yang baru tiba di kota Surabaya menggunakan kereta; terutama di Stasiun Surabaya Gubeng dan Surabaya Pasar Turi; dan ingin melanjutkan perjalanan ke kota Sidoarjo, tentu transportasi kereta lokal ini bisa kamu coba. Karena itu, gue akan lampirkan jadwal kereta lokal Penataran di bawah ini siapa tau sangat membantu untuk kamu.

Screenshot_1
Jadwal relasi Blitar – Malang – Surabaya. Sumber: Wikipedia, Juli 2017

Screenshot_2Jadwal relasi Surabaya – Malang – Blitar. Sumber: Wikipedia, Juli 2017

Selain kereta Penataran, ada juga kereta komuter Surabaya – Porong atau yang dulu dikenal dengan nama Delta Ekspress. Kereta ini juga berhenti di kota Sidoarjo dengan tarif yang lebih murah yakni jauh dekat Rp. 5,000. Hanya saja gerbongnya tidak dilengkapi dengan AC. Apabila ada kesempatan untuk mengulas kereta ini, bakal gue post juga di blog ini. πŸ™‚

Advertisements